Welcome to our online store

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam id libero non erat fermentum varius eget at elit. Suspendisse vel mattis diam. Ut sed dui in lectus hendrerit interdum nec ac neque. Praesent a metus eget augue lacinia accumsan ullamcorper sit amet tellus. Duis cursus egestas hendrerit. Fusce luctus risus id elit malesuada ac sagittis magna tempus. Sed egestas fringilla turpis at ullamcorper. Pellentesque adipiscing ornare cursus.
Latest Products
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Apa Itu Jahmiyyah?



A. SEJARAH JAHMIYAH ?
Para ulama menyebutkan bahwa Ja’d bin Dirham merupakan pencetus dan penebar embrio pertama pemikiran Jahmiyah yang kemudian digulirkan oleh Jahm bin Shafwan, sehingga pemikiran tersebut dinisbatkan kepadanya. Menurut salah satu riwayat bahwa Ja’d mengambil pemikiran dari Aban bin Sam’an, dan Aban mengambil dari Thalut anak saudara perempuan Lubaid bin al-A’sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi. Lihat al-Milal wan Nihal, (173) karya as-Sahrastani, al-Farqu baina al-Firaq, hal.194 oleh al-Baghdadi dan Thabaqah al-Hanabilah (1/32) karya Ibnu Abu Ya’la, dan Maqalaat Islamiyyah (1/312).

B. KENAPA JAHMIYAH DIKATAKAN SESAT ?
Jahm bin Shafwan bisa dianggap penebar kesesatan kawakan, karena ia telah menghimpun tiga kebid’ahan yang sangat buruk dan berbahaya disamping beberapa bid’ah yang lain :

Pertama : Bid’ah Ya’thil yaitu peniadaan sifat-sifat Allah dan menyangka bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat apa pun, karena pemberian sifat bisa mengakibatkan penyerupaan dengan makhluk-NyaAr-Radd ‘alaa Jahmiyyah, hal.17 karya Imam ad-Darimi, dan Majmuu’ Fataawaa (5/20)

Kedua : Bid’ah Jabr yaitu pernyataan bahwa menusia tidak mempunyai kemampuan dan daya upaya sama sekali bahkan semua kehendaknya muncul dalam keadaan dipaksa oleh kehendal Allah, maka ia menganggap perbuatan manusia dinisbatkan kepadanya hanya sekedar metaforaMaqalaat Islamiyyin al-Asy’ari (1/312)

Ketiga: Bid’ah Irja’ bahwa iman cukup hanya dengan ma’rifat, barang siapa yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan ma’rifat tidak bisa lenyap karena ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati tidak dalam perbuatan. Maqalaat Islamiyyin (1/312)]

Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah (wafat 561 H) berkata dalam menjelaskan tentang Jahmiyah, dalam kitab Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq (1/128; Daar Ihyaa At-Turaats, Cet. 1/1416) :

“Pasal : Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbatkan pada Jahm bin Shafwaan dimana ia berkata :

1. Iman adalah hanyalah ma’rifah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang di sisinya;
2. Al-Qur’an adalah makhluq;
3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung);
4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (= menafikkan sifat kalaam – );
5. Allah tidak bisa dilihat;
6. Allah tidak diketahui mempunyai tempat tertentu;
7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy;
8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat);
9. Mengingkari adzab qubur;
10. Surga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana (tidak kekal);
11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat;
12. Penduduk surga tidak akan (bisa) melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihatnya di surga;
13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb tanpa pengikraran dengan lisan; dan
14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa” [selesai].

C. PENDAPAT PARA IMAM/ULAMA AHLUSSUNNAH,
Jahmiyah sesat, bahkan ada ulama yang mengkafirkan.
Banyak ulama dari dulu hingga sekarang yang membuat bantahan terhadap Jahmiyyah. Diantaranya kitab “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.

Sungguh benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata:
“Pertempuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam”.
Berikut perkataan ulama tentang jahmiyah :

1. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Saya menukil ucapan orang Yahudi dan Nasrani lebih aku senangi daripada aku menukil ucapan Jahmiyah. Dan kebanyakan dalam firqah Islam, bahkan Abdullah bin Mubarak menyatakan kekafiran Jahmiyah”.[ Lihat al-Milal wa Nihal (1/134) karya as-Sahratani, dan Maqalaat Islamiyyin (1/198) karya al-Asy’ari.

2. Imam Syafii berkata terhadap Hafsh al Fard yang ketika mengatakan bahwa al Qur’an itu makhluk maka Syafii berkata, “Engkau telah kafir terhadap Allah” sebagaimana nukilan Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah? Demikian vonis kafir yang diberikan kepada al Jahm bin Shofwan, Bisyr al Marisi, an Nazham dan Abu Hudzail al ‘Allaf sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Baththah dalam al Ibanah al Shughra.

Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Barangsiapa yang berkata lafadhku dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan lafadhku adalah makhluk, maka ia seorang Jahmiy (penganut paham Jahmiyyah)” [I’tiqaad Asy-Syaafi’iy oleh Al-Hakkaariy, hal. 23, tahqiq : Al-Barraak].

3. Adz Dzahabi dalam kitabnya Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar membawakan berbagai perkataan ulama masa silam yang jelas-jelas menyatakan bahayanya pemikiran Jahmiyah

4. Sufyan As-Tsauri mengatakan, Al-Quran kalamullah, barang siapa mengatakan ia mahluk maka sungguh kafir dan barang siapa ragu akan kekafirannya maka ia kafir(juga). Imam Ahmad berkata, Barang siapa yang mengatakan Al-Quran mahluk maka ia menurut kami kafir karena al-Quran bersumber dari Allah dan di dalamnya terdapat nama Allah azza wa jalla.

5. Imam ad-Darimi menuliskan dalam kitabnya ar-Rad aal Jahmiyah (Membantah Jahmiyah) satu bab husus yang membahas kekafiran Jahmiyah. Beliau menerangkan, Bab Pengambilan dalil Untuk Mengafirkan Jahmiyah, kemudian beliau berkata di bawahnya, Di Baghdad, seorang laki-laki mendebatku dalam rangka membela golongan Jahmiyah. Ia bertanya, Ayat apa yang Anda jadikan dasar untuk mengafirkan Jahmiyah, padahal kita dilarang mengafirkan ahli kiblat(Orang yang masih shalat), apakah dengan kitab yang dapat berbicara Anda mengafirkan mereka? Atau dengan dengan hadits? Atau dengan ijma? Maka aku jawab, Jahmiyah menurut pendapat Kami bukanlah ahli kiblat, dan kami tidaklah mengafirkan mereka kecuali dengan kitab yang tertulis, atsar yang masyhur dan kekafiran mereka telah masyhur kemudian beliau merinci dalil-dalil yang mengafirkan mereka

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah meriwatyatkan, sebagian besar ulama mengafirkan Jahmiyah. Beliau berkata, Dan yang terkenal dari madzhab Imam Ahmad dan mayoritas ulama sunnah adalah mengafirkan Jahmiyah. Merekalah yang menolak sifat-sfat Allah dan ucapan mereka sangat jelas menentang apa yang dibawa rasululah.

7. Ibnul Qoyyim dalam syair Nuniyahnya mengatakan :
Sungguh limapuluh dari puluhan ulama telah mengafirkan mereka di berbagai negeri Al-Imam Al-Likai meriwaytkan dari mereka bahkan sebelumnya sudah ada yang mendahuluinya, at-Tahabrani.

8. Al-Baijuriy – seorang pembesar madzhab Asy’ariyyah – dalam kitab Hasyiyyah Al-Baijuriy ‘alaa Jauharit-Tauhiid dalam permasalahan yang sama. Ia berkata :

“Madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menyatakan bahwa Al-Qur’an dengan makna al-kalaamun-nafsiy (yaitu : yang berasal dari diri Allah ta’ala) bukanlah makhluk. Adapun Al-Qur’aan dengan makna lafadh yang kita baca, maka ia adalah makhluk. Akan tetapi terlarang untuk dikatakan : Al-Qur’an adalah makhluk – yang dimaksudkan dengannya adalah lafadh yang kita baca, kecuali dalam konteks pengajaran. Karena, perkataan tersebut bisa disalahartikan bahwa Al-Qur’an dengan makna kalam-Nya ta’ala (al-kalaamun-nafsiy –) adalah makhluk. Dengan alasan itulah para imam melarang terhadap perkataan Al-Qur’an adalah makhluk” [hal. 160].

D. ANAK CUCU JAHMIYAH :
Diantara sekte yang mengusung faham jahmiyah adalah mu’tazilah, Asy-Ariyah, Qodariyah dan yang sependapat dengan mereka.

E KESIMPULANNYA,
Jahmiyyah, mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallahul musta’an.

Maka berhati-hatilah kita akan subhat mereka, kita berdo’a semoga kita diselamatkan dari akidah sesat, amiin.

Disingkat dari : 


A. SEJARAH JAHMIYAH ?
Para ulama menyebutkan bahwa Ja’d bin Dirham merupakan pencetus dan penebar embrio pertama pemikiran Jahmiyah yang kemudian digulirkan oleh Jahm bin Shafwan, sehingga pemikiran tersebut dinisbatkan kepadanya. Menurut salah satu riwayat bahwa Ja’d mengambil pemikiran dari Aban bin Sam’an, dan Aban mengambil dari Thalut anak saudara perempuan Lubaid bin al-A’sham, seorang Yahudi yang pernah menyihir Nabi. Lihat al-Milal wan Nihal, (173) karya as-Sahrastani, al-Farqu baina al-Firaq, hal.194 oleh al-Baghdadi dan Thabaqah al-Hanabilah (1/32) karya Ibnu Abu Ya’la, dan Maqalaat Islamiyyah (1/312).

B. KENAPA JAHMIYAH DIKATAKAN SESAT ?
Jahm bin Shafwan bisa dianggap penebar kesesatan kawakan, karena ia telah menghimpun tiga kebid’ahan yang sangat buruk dan berbahaya disamping beberapa bid’ah yang lain :

Pertama : Bid’ah Ya’thil yaitu peniadaan sifat-sifat Allah dan menyangka bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat apa pun, karena pemberian sifat bisa mengakibatkan penyerupaan dengan makhluk-NyaAr-Radd ‘alaa Jahmiyyah, hal.17 karya Imam ad-Darimi, dan Majmuu’ Fataawaa (5/20)

Kedua : Bid’ah Jabr yaitu pernyataan bahwa menusia tidak mempunyai kemampuan dan daya upaya sama sekali bahkan semua kehendaknya muncul dalam keadaan dipaksa oleh kehendal Allah, maka ia menganggap perbuatan manusia dinisbatkan kepadanya hanya sekedar metaforaMaqalaat Islamiyyin al-Asy’ari (1/312)

Ketiga: Bid’ah Irja’ bahwa iman cukup hanya dengan ma’rifat, barang siapa yang inkar di lisan maka hal tersebut tidak membuatnya kafir sebab ilmu dan ma’rifat tidak bisa lenyap karena ingkar, dan keimanan tidak berkurang dan semua hamba setara dalam keimanannya serta iman dan kufur hanya dalam hati tidak dalam perbuatan. Maqalaat Islamiyyin (1/312)]

Asy-Syaikh ‘Abdul-Qadiir Al-Jiilaaniy rahimahullah (wafat 561 H) berkata dalam menjelaskan tentang Jahmiyah, dalam kitab Al-Ghun-yah li-Thaalibiy Thariiqil-Haqq (1/128; Daar Ihyaa At-Turaats, Cet. 1/1416) :

“Pasal : Adapun Jahmiyyah, maka ia dinisbatkan pada Jahm bin Shafwaan dimana ia berkata :

1. Iman adalah hanyalah ma’rifah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang di sisinya;
2. Al-Qur’an adalah makhluq;
3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung);
4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (= menafikkan sifat kalaam – );
5. Allah tidak bisa dilihat;
6. Allah tidak diketahui mempunyai tempat tertentu;
7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy;
8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat);
9. Mengingkari adzab qubur;
10. Surga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana (tidak kekal);
11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat;
12. Penduduk surga tidak akan (bisa) melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihatnya di surga;
13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb tanpa pengikraran dengan lisan; dan
14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa” [selesai].

C. PENDAPAT PARA IMAM/ULAMA AHLUSSUNNAH,
Jahmiyah sesat, bahkan ada ulama yang mengkafirkan.
Banyak ulama dari dulu hingga sekarang yang membuat bantahan terhadap Jahmiyyah. Diantaranya kitab “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.

Sungguh benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata:
“Pertempuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam”.
Berikut perkataan ulama tentang jahmiyah :

1. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Saya menukil ucapan orang Yahudi dan Nasrani lebih aku senangi daripada aku menukil ucapan Jahmiyah. Dan kebanyakan dalam firqah Islam, bahkan Abdullah bin Mubarak menyatakan kekafiran Jahmiyah”.[ Lihat al-Milal wa Nihal (1/134) karya as-Sahratani, dan Maqalaat Islamiyyin (1/198) karya al-Asy’ari.

2. Imam Syafii berkata terhadap Hafsh al Fard yang ketika mengatakan bahwa al Qur’an itu makhluk maka Syafii berkata, “Engkau telah kafir terhadap Allah” sebagaimana nukilan Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah? Demikian vonis kafir yang diberikan kepada al Jahm bin Shofwan, Bisyr al Marisi, an Nazham dan Abu Hudzail al ‘Allaf sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Baththah dalam al Ibanah al Shughra.

Asy-Syaafi’iy berkata : ‘Barangsiapa yang berkata lafadhku dengan Al-Qur’an atau Al-Qur’an dengan lafadhku adalah makhluk, maka ia seorang Jahmiy (penganut paham Jahmiyyah)” [I’tiqaad Asy-Syaafi’iy oleh Al-Hakkaariy, hal. 23, tahqiq : Al-Barraak].

3. Adz Dzahabi dalam kitabnya Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar membawakan berbagai perkataan ulama masa silam yang jelas-jelas menyatakan bahayanya pemikiran Jahmiyah

4. Sufyan As-Tsauri mengatakan, Al-Quran kalamullah, barang siapa mengatakan ia mahluk maka sungguh kafir dan barang siapa ragu akan kekafirannya maka ia kafir(juga). Imam Ahmad berkata, Barang siapa yang mengatakan Al-Quran mahluk maka ia menurut kami kafir karena al-Quran bersumber dari Allah dan di dalamnya terdapat nama Allah azza wa jalla.

5. Imam ad-Darimi menuliskan dalam kitabnya ar-Rad aal Jahmiyah (Membantah Jahmiyah) satu bab husus yang membahas kekafiran Jahmiyah. Beliau menerangkan, Bab Pengambilan dalil Untuk Mengafirkan Jahmiyah, kemudian beliau berkata di bawahnya, Di Baghdad, seorang laki-laki mendebatku dalam rangka membela golongan Jahmiyah. Ia bertanya, Ayat apa yang Anda jadikan dasar untuk mengafirkan Jahmiyah, padahal kita dilarang mengafirkan ahli kiblat(Orang yang masih shalat), apakah dengan kitab yang dapat berbicara Anda mengafirkan mereka? Atau dengan dengan hadits? Atau dengan ijma? Maka aku jawab, Jahmiyah menurut pendapat Kami bukanlah ahli kiblat, dan kami tidaklah mengafirkan mereka kecuali dengan kitab yang tertulis, atsar yang masyhur dan kekafiran mereka telah masyhur kemudian beliau merinci dalil-dalil yang mengafirkan mereka

6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah meriwatyatkan, sebagian besar ulama mengafirkan Jahmiyah. Beliau berkata, Dan yang terkenal dari madzhab Imam Ahmad dan mayoritas ulama sunnah adalah mengafirkan Jahmiyah. Merekalah yang menolak sifat-sfat Allah dan ucapan mereka sangat jelas menentang apa yang dibawa rasululah.

7. Ibnul Qoyyim dalam syair Nuniyahnya mengatakan :
Sungguh limapuluh dari puluhan ulama telah mengafirkan mereka di berbagai negeri Al-Imam Al-Likai meriwaytkan dari mereka bahkan sebelumnya sudah ada yang mendahuluinya, at-Tahabrani.

8. Al-Baijuriy – seorang pembesar madzhab Asy’ariyyah – dalam kitab Hasyiyyah Al-Baijuriy ‘alaa Jauharit-Tauhiid dalam permasalahan yang sama. Ia berkata :

“Madzhab Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menyatakan bahwa Al-Qur’an dengan makna al-kalaamun-nafsiy (yaitu : yang berasal dari diri Allah ta’ala) bukanlah makhluk. Adapun Al-Qur’aan dengan makna lafadh yang kita baca, maka ia adalah makhluk. Akan tetapi terlarang untuk dikatakan : Al-Qur’an adalah makhluk – yang dimaksudkan dengannya adalah lafadh yang kita baca, kecuali dalam konteks pengajaran. Karena, perkataan tersebut bisa disalahartikan bahwa Al-Qur’an dengan makna kalam-Nya ta’ala (al-kalaamun-nafsiy –) adalah makhluk. Dengan alasan itulah para imam melarang terhadap perkataan Al-Qur’an adalah makhluk” [hal. 160].

D. ANAK CUCU JAHMIYAH :
Diantara sekte yang mengusung faham jahmiyah adalah mu’tazilah, Asy-Ariyah, Qodariyah dan yang sependapat dengan mereka.

E KESIMPULANNYA,
Jahmiyyah, mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Adapun dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Sehingga konsekuensi dari pendapat mereka ialah pelaku dosa besar adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Wallahul musta’an.

Maka berhati-hatilah kita akan subhat mereka, kita berdo’a semoga kita diselamatkan dari akidah sesat, amiin.

Disingkat dari : 
Apa Itu Jahmiyyah?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTqv66qRM7ztDDyzuq0w_tpXsWBIKByKG_uGU50wlgPsr4Kz5w7bWpP_zWf6IEVa3kzI3ugP_sCw2bXFkUOWfaCj3hPcpUK5ZoQzvbtL6-6Yz3OnmgunkjPUAZkh6YKMtbatyCVaeg4Xn9QL0R6xopShcvaYlTHrtXZGKv5s4pH_XegSWKbxGYEDNiag/s72-c/IMG_5866.jpg
View detail

Beranggapan Sial Berbau Syirik

Thiyaroh atau Tathoyyur
Segala puji bagi Allah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sering mendengar ada yang beranggapan sial dengan nama anaknya. Buktinya, ketika anaknya di usia belia sakit-sakitan, maka ada yang beranggapan sial bahwa itu karena namanya yang terlalu berat. Ada juga yang menganggap bahwa karena salah nama, anaknya jadi bandel. Intinya, nama anak akhirnya yang disalahkan.

Beranggapan sial bukan hanya seperti di atas, banyak contohnya. Ujung-ujungnya beranggapan sial itu mengarah pada kesyirikan.

Memahami Thiyaroh atau Tathoyyur
Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.

Namun maksud thiyaroh di sini adalah umum, bukan hanya dengan burung saja. Thiyaroh adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu.

Contoh dari thiyaroh atau beranggapan sial:
  1. Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.
  2. Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa ‘alaihis salam.
  3. Menganggap bulan Suro atau bulan Muharram adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.
  4. Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.
  5. Anggapan sial dengan angka 13.
Thiyaroh Termasuk Akidah Jahiliyah
Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).

Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman.

Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri. Sebagaimana hal ini dapat kita ambil pelajaran dari surat Yasin tentang kisah penduduk negeri yang mendustakan dua sampai tiga utusan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu”. Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”. Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas“.” (QS. Yasin: 13-19). Penduduk negeri tersebut menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan para utusan tersebut. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala nyatakan sendiri bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.

Begitu pula orang-orang musyrik pernah menganggap datangnya nasib malang, itu karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ
Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.” (QS. An Nisa’: 78).

Larangan Thiyaroh
Thiyaroh atau beranggapan sial termasuk kesyirikan sebagaimana dinyatakan dalam hadits.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ
Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »
Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)

Apa beda al fa’lu dan thiyaroh? Al fa’lu adalah berangan kebaikan. Sedangkan thiyaroh adalah berperasaan akan datangnya keburukan. Berangan datangnya kebaikan adalah suatu anjuran karena hal ini termasuk husnu zhon (berprasangka baik) pada Allah. Contoh fa’lu adalah ketika kita mendengar ucapan-ucapan yang baik, maka cerialah hati kita. Atau kita melihat seorang yang tampil menawan hati, kita pun menjadi tenang, tanda mengharap kebaikan dan husnu zhon pada Allah. Fa’lu termasuk perkara yang baik. Dari sinilah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takjub. Ketika mendengar nama atau ucapan yang baik atau berlalu di tempat kebaikan, hati menjadi tenang, dan tanda husnu zhon pada Allah. Demikian penjelasan Syaikhuna, Dr. Sholeh Al Fauzan dalam I’anatul Mustafid.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».
Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa thiyaroh atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:
  1. Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.
  2. Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.
Catatan: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar’i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah.

Kuncinya Tawakkal
Anggapan sial mengurangi tauhid seorang muslim dan dinilai syirik. Penilaian syirik ini dilihat dari beberapa sisi: (1) bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, (2) memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan (3) mengurangi tauhid. Untuk menghilangkan persangkaan sial di sini hanyalah dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Hadits yang telah lewat disebutkan, “Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”. 

Penulis Fathul Madjid (335) berkata, “Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.” Ini perkataan beliau dalam I’anatul Mustafid (2: 16).
Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala.  Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
[Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa bik] “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Referensi:
  1. Faedah dari Durus Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syitsriy Kamis 17 Rabi’ul Awwal 1433 H di Jami’ Syaikh Nashir Asy Syitsri, Riyadh, KSA, dalam bahasan Kitab Tauhid, tema “Maa Jaa-a fii Tathoyyur.
  2. Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, 1431 H.
  3. I’anatul Mustafid, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Muassasah Ar Risalah.
  4. Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh Hamd bin ‘Abdullah Al Hamd, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, 1431 H.

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 17 Rabiul Awwal 1433 H
Thiyaroh atau Tathoyyur
Segala puji bagi Allah tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sering mendengar ada yang beranggapan sial dengan nama anaknya. Buktinya, ketika anaknya di usia belia sakit-sakitan, maka ada yang beranggapan sial bahwa itu karena namanya yang terlalu berat. Ada juga yang menganggap bahwa karena salah nama, anaknya jadi bandel. Intinya, nama anak akhirnya yang disalahkan.

Beranggapan sial bukan hanya seperti di atas, banyak contohnya. Ujung-ujungnya beranggapan sial itu mengarah pada kesyirikan.

Memahami Thiyaroh atau Tathoyyur
Pembahasan beranggapan sial ini dalam bahasan akidah diistilahkan dengan thiyaroh atau tathoyyur. Thiyaroh berasal dari kata burung, artinya dahulu orang Arab Jahiliyah ketika memutuskan melakukan safar, mereka memutuskan dengan melihat pergerakan burung. Jika burung tersebut bergerak ke kanan, maka itu tanda perjalanannya akan baik. Jika burung tersebut bergerak ke kiri, maka itu tanda mereka harus mengurungkan melakukan safar karena bisa jadi terjadi musibah ketika di jalan.

Namun maksud thiyaroh di sini adalah umum, bukan hanya dengan burung saja. Thiyaroh adalah beranggapan sial ketika tertimpanya suatu musibah pada sesuatu yang bukan merupakan sebab dilihat dari sisi syar’i atau inderawi, baik itu dengan orang, dengan benda tertentu, dengan tumbuhan, dengan waktu, dengan angka tertentu atau dengan tempat tertentu.

Contoh dari thiyaroh atau beranggapan sial:
  1. Menganggap anak sakit-sakitan karena nama yang terlalu berat diemban sehingga harus ada penggantian nama.
  2. Mengganggap datangnya musibah itu karena si A yang baru datang ke kampung, sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana dahulu Fir’aun beranggapan datangnya bencana gara-gara Nabi Musa ‘alaihis salam.
  3. Menganggap bulan Suro atau bulan Muharram adalah bulan keramat sehingga tidak boleh mengadakan hajatan, walimahan atau acara besar lainnya.
  4. Jika lewat di depan kuburan, selalu sial dan sering melihat hantu gentayangan.
  5. Anggapan sial dengan angka 13.
Thiyaroh Termasuk Akidah Jahiliyah
Beranggapan sial atau thiyaroh termasuk akidah jahiliyah. Bahkan sudah ada di masa sebelum Islam. Lihatlah bagaimana Fir’aun beranggapan sial pada Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya. Ketika datang bencana mereka katakan itu gara-gara Musa. Namun ketika datang berbagai kebaikan, mereka katakana itu karena usaha kami sendiri, tanpa menyebut kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).

Kesialan yang dianggap sesungguhnya tidaklah benar. Yang shahih, Musa dan orang beriman sebagai pengikutnya adalah sebab datangnya kebaikan dan barokah. Karena para Rasul ‘alaihimush sholaatu was salaam membuat perbaikan di muka bumi dengan ketaatan yang mereka perbuat, sehingga turunlah barokah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf: 96). Dan sebenarnya sebab datangnya musibah adalah karena pembakangan ahli maksiat, orang musyrik dan kafir, bukan dari orang beriman.

Kesialan dan bencana sebenarnya karena kekurang ajaran orang kafir itu sendiri. Sebagaimana hal ini dapat kita ambil pelajaran dari surat Yasin tentang kisah penduduk negeri yang mendustakan dua sampai tiga utusan Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu”. Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”. Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas“.” (QS. Yasin: 13-19). Penduduk negeri tersebut menganggap nasib sial menimpa mereka karena kedatangan para utusan tersebut. Namun hal itu dibantah oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala nyatakan sendiri bahwa kesialan itu karena sebab pembangkangan penduduk itu sendiri.

Begitu pula orang-orang musyrik pernah menganggap datangnya nasib malang, itu karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ
Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.” (QS. An Nisa’: 78).

Larangan Thiyaroh
Thiyaroh atau beranggapan sial termasuk kesyirikan sebagaimana dinyatakan dalam hadits.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ
Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220). Dalam hadits ini disebutkan tidak bolehnya beranggapan sial secara umum, juga pada tempat dan waktu tertentu seperti pada bulan Shafar. Di negeri kita yang terkenal adalah beranggapan sial dengan bulan Suro, maka itu pun sama terlarangnya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ »
Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Sedangkan al fa’lu membuatkan takjub.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu?” “Kalimat yang baik (thoyyib)”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 5776 dan Muslim no. 2224)

Apa beda al fa’lu dan thiyaroh? Al fa’lu adalah berangan kebaikan. Sedangkan thiyaroh adalah berperasaan akan datangnya keburukan. Berangan datangnya kebaikan adalah suatu anjuran karena hal ini termasuk husnu zhon (berprasangka baik) pada Allah. Contoh fa’lu adalah ketika kita mendengar ucapan-ucapan yang baik, maka cerialah hati kita. Atau kita melihat seorang yang tampil menawan hati, kita pun menjadi tenang, tanda mengharap kebaikan dan husnu zhon pada Allah. Fa’lu termasuk perkara yang baik. Dari sinilah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takjub. Ketika mendengar nama atau ucapan yang baik atau berlalu di tempat kebaikan, hati menjadi tenang, dan tanda husnu zhon pada Allah. Demikian penjelasan Syaikhuna, Dr. Sholeh Al Fauzan dalam I’anatul Mustafid.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».
Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa thiyaroh atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:
  1. Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.
  2. Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.
Catatan: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar’i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah.

Kuncinya Tawakkal
Anggapan sial mengurangi tauhid seorang muslim dan dinilai syirik. Penilaian syirik ini dilihat dari beberapa sisi: (1) bergantung pada sesuatu yang bukan sebab secara hakiki, (2) memutuskan suatu kejadian seakan-akan menentang takdir Allah, dan (3) mengurangi tauhid. Untuk menghilangkan persangkaan sial di sini hanyalah dengan tawakkal. Karena tawakkal terdapat ketergantungan hati pada Allah. Hadits yang telah lewat disebutkan, “Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal”. 

Penulis Fathul Madjid (335) berkata, “Akan tetapi jika kita bertawakkal pada Allah dalam meraih maslahat dan menolak mudhorot, maka was-was untuk beranggapan sial akan hilang dengan izin Allah.”

Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Penyembuh dari beranggapan sial adalah dengan bertawakkal pada Allah. Kemudian meninggalkan anggapan sial dan tidak memiliki keraguan lagi dalam hati.” Ini perkataan beliau dalam I’anatul Mustafid (2: 16).
Ingatlah pelajaran dari firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Jangan menuduh kesialan itu pada tanggal, hari, angka, bulan, tempat atau nama anak. Buang jauh-jauh anggapan sial dan ganti dengan tawakkal pada Allah Ta’ala.  Ketika mendapatkan hal yang tidak mengenakkan, ucapkanlah:

اللَّهُمَّ لاَ يَأْتِى بِالْحَسَنَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
[Allahumma laa ya’ti bilhasanaati illa anta. Wa yadfa’us sayyi-ati illa anta. Wa laa hawla wa laa quwwata illa bik] “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali engkau. Tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali engkau. Tidak ada daya dan upaya melainkan denganmu.”

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Referensi:
  1. Faedah dari Durus Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syitsriy Kamis 17 Rabi’ul Awwal 1433 H di Jami’ Syaikh Nashir Asy Syitsri, Riyadh, KSA, dalam bahasan Kitab Tauhid, tema “Maa Jaa-a fii Tathoyyur.
  2. Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, 1431 H.
  3. I’anatul Mustafid, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Muassasah Ar Risalah.
  4. Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh Hamd bin ‘Abdullah Al Hamd, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, 1431 H.

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 17 Rabiul Awwal 1433 H
Beranggapan Sial Berbau Syirik
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKQddEhe5WZnqCdgm7Dq2bxRKiH6DlAm2pFxuoARtI703wIWJs3PW7a2AOzAqYNgUaSlYQsudzbwldPXKx32hCsziIn8csBBzlQS2szZ1MnJCiU-8Qp0W3-xR-n0yWAOXBR4XL_OLWhNfe/s72-c/images2.jpg
View detail

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menilai Sosok Mbah Maridjan

Mbah Maridjan
Oleh : Ust. Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty

Selain meletusnya gunung merapi kematian mbah maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir-akhir ini, dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai “kuncen” gunung merapi disamping mbah maridjan meninggal menjadi korban  meletusnya gunung merapi. Apalagi konon meninggalnya dalam keadaan sujud. Tak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, atau karena keberaniannya dan pujian-pujian lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar diatas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang haq (benar) ba’da taufiqillah (setelah hidayah taufiq Allah) menilai sosok mbah maridjan. Insya Allah penjelasan sederhana dibawah ini menjadi penjelas bagi kita bagaimana kita menilai seorang mbah maridjan.

Pertama : Mbah Maridjan dan tugasnya sebagai seorang  “kuncen/juru kunci” gunung merapi

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permaslahan dien nya (agamanya)…!!! Cukup dengan mengetahui  bahwasannya mbah maridjan sebagai seorang “kuncen” gunung merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok mbah maridjan dengan benar dan menahan diri mereka untuk memuji mba maridjan dan mengagguminya. Kuncen…?? apa maksudnya ini, kalau tidak dibalik semua ini ada keyakinan-keyakinan sesat. Juru kunci gunung merapi…???!!!, ada apa dibalik semua itu…??? Kalau tidak keyakinan syirik…!!!. Itulah yang diyakini mbah maridjan, mbah maridjan menyakini bahwa gunung merapi mempunyai penunggunya, yang menguasainya, yang bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar, sehingga berimbas dari keyakinan itu mbah maridjan melakukan taqarub (mendekatkan diri) dengan memberi sesajen dan yang lainnya supaya penunggu dan penguasa gunung merapi itu tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Adakah perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang lebih jelas dari ini…???!!!. Mbah maridjan melakukan ritual tolak bala dengan  membuang berbagai macam barang karaton dari mulai keris dan lainya yang dikenal dengan labuhan merapi. Begitu juga melakukan ritual tapa bisu dan lain-lain.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al –Fauzan Hafidzahullah : ” Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah didalam Rububiyah Nya (penciptaan, pengaturan, memberi manfaat dan mudharat/bahaya) dan didalam Uluhiyah Nya (dalam beribadah kepada Allah)” ( Aqidah Tauhid Syaikh Shalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ” Bahkan syirik adalah dengan menujukan untuk selain Allah sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Nya “ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas : 18 ) Termasuk kekhususan Allah adalah Rububiyah Nya, Allahlah satu satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat dan mudharat (bahaya) dan yang lainnya. Dan mbah maridjan telah membuat tandinggan bagi Allah didalam Rububiyah Nya ketika mbah maridjan menyakini ada selain Allah yang memberi manfaat dan mudharat, yaitu penunggu gunung merapi.!!!

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Artinya : Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ
Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
أَيُشْرِكُونَ مَا لاَ يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلاَ أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ
“ Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan. Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan “. (Qs. Al ‘Araaf : 191-192)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Dan ini pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah –penj) mereka menyembah  kepada yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan mereka (sesembahan) itu diciptakan, bagaimana mereka bisa memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj) atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka, didalam ayat ini terkandung sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu empat hal :
  1. Bahwasanya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu
  2. Bahwasanya mereka  makhluk yang diciptakan
  3. Bahwasanya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya
  4. Bahwasanya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri “ ( Syarhu Kitabit Tauhid Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )
Disamping itu mbah maridjan mengaku – ngaku mendapat wangsit kapan meletus atau tidaknya gunung merapi dari penunggu gunung merapi atau dari mbah merapi ???!!!, atau pengakuan dia memastikkan gunung berapi tidak akan meletus dan yang lainnya…??!!.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
” Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya gunung merapi, termasuk orang yang katanya mendapat wangsit itu (mbah maridjan sendiri) dan orang yang mengikutinya.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ
“ Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah “ (Qs. An-Naml :65)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurrahman As-sa’di Rahimahullah : “ Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “ Pada sisi Allah lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan dilautan dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “ Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim…” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam pengilmuanNya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat atau nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)
Kedua : Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang mbah maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang mbah maridjan, bahwasannya mbah maridjan disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa baca Al Qur’an dan yang lainnya tetapi disisi lain mbah maridjan juga beribadah kepada selain Allah, bertaqarub (mendekatkan) diri kepada selain Allah dengan berbagai macam ibadah, diantaranya menyediakan sesajen kepada para penunggu dan penguasa yang mbah maridjan yakini sebagai para penunggu dan penguasa gunung merapi. Jelas ini perbuatan syirik dan kekufuran, bermula pada kesyrikkan dalam Rububiyah Allah dan berimbas pada perbuatan syirik dalam Uluhiyyah Allah.

Islam adalah agama tauhid, yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kita beribadah kepada selain Allah, kepada gunungkah, jinkah atau selain mereka. Bahkan tauhid adalah inti agama dan dakwahnya para Rasul.

Allah Ta’ala Berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya :  ” Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anhu : “Setiap apa yang terdapat didalam Al -Qur’an dari ibadah, bermakna tauhid” ( Tafsir Al Baghowi, dinukil dari Syarh Qawaidul Arba’ Syaikh Khalid Ar Radadi)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (Qs. Al Fatiha : 5 )

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
” Dan sunnguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut “ ( Qs. An Nahal : 36 ) 

Berkata Asy Syaikh ‘Al ‘Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Faedah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik “ ( Al Mulakhos fi Syarhi Kitab At Tauhid : 11 )

Ini diantara ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang untuk beibadah kepada selain Allah. Maka jika seorang mencampur ibadahnya dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dengan kesyirikan yang besar atau dengan tanpa tauhid maka sia-sialah amalannya.

Berkata Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab An Najdi Rahimahullah :” Ketahuilah Ibadah tidaklah dinamakan sebagai sebuah ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid (orangya hanya beribadah kepada Allah semata -pen) sebagaimana tidak dikatakan sholat kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Apabila  syirik masuk kedalam ibadah akan membatalkan ibadah sebagaimana hadast apabila masuk kedalam thaharah “ (Qawaidul Arba’)

Berkata Asy Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah : “ Apabila kamu telah mengetahui ini bahwasannya ibadah tidak diterima kecuali dengan mentauhidkan Allah (beribadah hanya kepada Allah semata -pen) demikian juga sholat tidak diterima kecuali dalam keadaan thaharah (suci), dikarenakan tauhid (beribadah hanya kepada Allah semata -pen)  syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan thaharah (suci) syarat dari sahnya shalat, dimana tidak sah shalat kecuali apabila dia dalam keadaan thaharah (suci), begitu juga tidak sah ibadah seseorang kecuali apabila dia seorang yang mentauhidkan Allah. Walau seandainya jidadnya ada bekas sujud, puasa disiang hari dan shalat dimalam hari. Dikarenakan syarat diterimanya itu semua adalah dilakukan oleh seorang Muwwahid (orang yang hanya beribadah kepada Allah semata) yang ikhlas.

Allah Jalla wa’alaa berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“ Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi, karena itu hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur “ ( Qs. Az Zummar : 65-66 )

Allah Jalla wa’alaa berkata kepada orang kafir
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“ Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan(Qs. Al Furqan : 23)

(Syarah Al Qawaidul Arba’ Syaikh Shalih Alu Syaikh: 11)
Coba kita lihat diantara salah satu perkataan mbah maridjan yang menunjukkan sosok mbah maridjan, yaitu ketika dia berkata kepada detikcom ketika ditemui dirumahnya kamis18/52006; mbah maridjan berkata : “ saya disana berdoa, minta kepada Allah dengan ‘lantaran’ merapi” 

Lalu kita tengok perkataan seorang ulama yang menjelaskan tentang perbuatan-perbuaan yang dapat membatalkan kesislaman seseorang. Berkata Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab An Najdi Rahimahullah : “ Barangsiapa yang menjadikan adanya perantara antara dirinya dengan Allah, Mereka berdoa, meminta syafaat dan bertawakal kepada perantara tersebut maka dia telah kafir menurut kesepakatan para ulama “ (Kitab Nawaqidul Islam)

Dalil tentang hal ini adalah firman Allah Ta’ala
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“ Ingatlah! hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia  (berkata) : “ Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh Allah akan memberi putusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada seorang pendusta dan orang yang kafir” (Qs. Az Zumar : 3 )

Lihatlah pada ayat yang mulia ini Allah memerintahkan kita untuk beibadah kepada Allah semata, mengikhlaskan agama dan ketaatan hanya untuk Nya, tetapi mereka malah menyembah selain Allah dengan cara menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah didalam peribadatan kepada Nya. Yang mereka menyembah perantara itu dengan berbagai macam ibadah. Lalu Allah katakan apa pada diakhir ayat, yaitu sebagai seorang pendusta lagi kafir (هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ)

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلا فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“ Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat , dan mereka berkata : “ Mereka itu adalah pemberi syafaat kami dihadapan Allah.” Katakanlah : “apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-NYa apa yang ada dilangit dan dibumi?. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu “ (Qs. Yunus : 18 )

Pada ayat ini Allah mensucikan diri Nya sendiri dari perbutan syirik mereka, yaitu mereka menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah yang beribadah kepada perantara tersebut, baik perantara itu berhala, orang atau gunung, lalu Allah katakan apa diakhir ayat tentang orang yang melakukan perbuatan tesebut dengan perkataan “ Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ), Allah katakan perbuatan mereka sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Allah).

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang dosa syirik (menyekutukkan Allah) :
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsipa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 ) 

مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 ) 

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“ Sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalan mu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi “(Qs. Az Zummar : 65-66)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“ Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan(Qs. Al Furqan : 23)

Insya Allah dari penjelasan diatas kita bisa menilai sosok mbah maridjan dengan penilaian yang benar, berdasarkan ilmu bukan kebodohan atau ketertipuan dari pengaruh media masa, ternyata mbah maridjan seorang yang melakukan kesyirikan didalam Rububiyah Allah dan Uluhiyah Nya, baik kesyirikan yang besar atau yang kecil, begitu juga dia mengaku mengetahui perkara yang ghaib (dukun) padahal yang mengetahui perkara yang ghaib hanyalah Alah semata dan perkara syirik lainnya, apakah masih ada yang menilai mbah maridjan seorang yang shalih dan patut dijadikan teladan…???!!! Dipuji dan dikagumi…???!!! Berkata Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin, menjelaskan pengertian orang shalih. Orang shalih adalah orang yang menunaikan hak Allah dan hamba-hamba Nya (Syarh Kasyfu Subhaat). Hak Allah yang terbesar adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah semata. Kalau hak yang terbesar Allah saja tidak dipenuhi oleh mbah maridjan apakah dia pantas dikatakan sebagai seorang shalih lalu mati dalam keadaan khusnul khatimah (kesudahan yang baik)…??!!.

Wahai kaum muslimin jagalah aqidah dan keimananmu dari segala kesyirikkan, khurofat dan perdukunan. Dan bertawakalah wahai para pengelola media massa jangan kalian jerumuskan ummat kegelapnya kebodohan dan najisnya kesyirikkan, kekufuran dan perdukunan. Dunia ini hanya sementara kelak kalian akan dimaintai pertanggung jawabannya…!!!


Mbah Maridjan
Oleh : Ust. Abu Ibrahim Abdullah Bin Mudakir Al Jakarty

Selain meletusnya gunung merapi kematian mbah maridjan juga menjadi obrolan berbagai lapisan masyarakat akhir-akhir ini, dikarenakan keterkenalan tokoh yang satu ini sebagai “kuncen” gunung merapi disamping mbah maridjan meninggal menjadi korban  meletusnya gunung merapi. Apalagi konon meninggalnya dalam keadaan sujud. Tak sedikit orang yang memujinya karena mati dalam keadaan sujud, atau karena keberaniannya dan pujian-pujian lainnya. Dan hampir tidak ada komentar yang tak senada dengan komentar – komentar diatas. Lalu bagaimanakah seorang muslim yang terbimbing dengan agama yang haq (benar) ba’da taufiqillah (setelah hidayah taufiq Allah) menilai sosok mbah maridjan. Insya Allah penjelasan sederhana dibawah ini menjadi penjelas bagi kita bagaimana kita menilai seorang mbah maridjan.

Pertama : Mbah Maridjan dan tugasnya sebagai seorang  “kuncen/juru kunci” gunung merapi

Seharusnya seorang itu jeli dalam setiap permasalahan apalagi yang menyangkut permaslahan dien nya (agamanya)…!!! Cukup dengan mengetahui  bahwasannya mbah maridjan sebagai seorang “kuncen” gunung merapi maka seharusnya seseorang sudah bisa menilai sosok mbah maridjan dengan benar dan menahan diri mereka untuk memuji mba maridjan dan mengagguminya. Kuncen…?? apa maksudnya ini, kalau tidak dibalik semua ini ada keyakinan-keyakinan sesat. Juru kunci gunung merapi…???!!!, ada apa dibalik semua itu…??? Kalau tidak keyakinan syirik…!!!. Itulah yang diyakini mbah maridjan, mbah maridjan menyakini bahwa gunung merapi mempunyai penunggunya, yang menguasainya, yang bisa menimpakan bahaya untuk masyarakat sekitar, sehingga berimbas dari keyakinan itu mbah maridjan melakukan taqarub (mendekatkan diri) dengan memberi sesajen dan yang lainnya supaya penunggu dan penguasa gunung merapi itu tidak marah dan menimpakan bahaya kepada masyarakat sekitar. Adakah perbuatan syirik (menyekutukkan Allah) yang lebih jelas dari ini…???!!!. Mbah maridjan melakukan ritual tolak bala dengan  membuang berbagai macam barang karaton dari mulai keris dan lainya yang dikenal dengan labuhan merapi. Begitu juga melakukan ritual tapa bisu dan lain-lain.

Berkata Asy Syaikh Shalih Al –Fauzan Hafidzahullah : ” Syirik adalah menjadikan sekutu (atau tandingan) bagi Allah didalam Rububiyah Nya (penciptaan, pengaturan, memberi manfaat dan mudharat/bahaya) dan didalam Uluhiyah Nya (dalam beribadah kepada Allah)” ( Aqidah Tauhid Syaikh Shalih Al –Fauzan: 18 )

Berkata Imam Syaukani Rahimahullah : ” Bahkan syirik adalah dengan menujukan untuk selain Allah sesuatu yang merupakan kekhususan bagi Nya “ (Daurun Nadid Fi Kalimatil Ikhlas : 18 ) Termasuk kekhususan Allah adalah Rububiyah Nya, Allahlah satu satu-satunya yang mencipta, mengatur alam semesta ini, memberi rezeki, memberi manfaat dan mudharat (bahaya) dan yang lainnya. Dan mbah maridjan telah membuat tandinggan bagi Allah didalam Rububiyah Nya ketika mbah maridjan menyakini ada selain Allah yang memberi manfaat dan mudharat, yaitu penunggu gunung merapi.!!!

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Artinya : Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ
Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.  “ (QS. Yunus : 107)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : ” Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 )

Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
أَيُشْرِكُونَ مَا لاَ يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلاَ أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ
“ Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan. Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun mereka tidak dapat memberikan pertolongan “. (Qs. Al ‘Araaf : 191-192)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : “ Dan ini adalah sifat sesembahan yang tidak berhak disembah. Dan ini pertanyaan dalam rangka celaan (bagi orang yang beribadah kepada selain Allah –penj) mereka menyembah  kepada yang tidak bisa menciptakan walaupun hanya seekor semut bahkan mereka (sesembahan) itu diciptakan, bagaimana mereka bisa memberikan manfaat terhadap selain mereka, baik sesembahan itu berupa batu yang tidak berakal atau makhluk hidup yang tidak dapat mendengar (orang yang menyerunya –penj) atau orang mati yang tidak bisa mengabulkan seruan mereka, didalam ayat ini terkandung sifat sesembahan yang disembah selain Allah, yaitu empat hal :
  1. Bahwasanya mereka tidak dapat menciptakan sesuatu
  2. Bahwasanya mereka  makhluk yang diciptakan
  3. Bahwasanya mereka tidak dapat menolong orang-orang yang menyembahnya
  4. Bahwasanya mereka tidak dapat memberikan pertolongan untuk diri mereka sendiri “ ( Syarhu Kitabit Tauhid Asy Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz : 98 )
Disamping itu mbah maridjan mengaku – ngaku mendapat wangsit kapan meletus atau tidaknya gunung merapi dari penunggu gunung merapi atau dari mbah merapi ???!!!, atau pengakuan dia memastikkan gunung berapi tidak akan meletus dan yang lainnya…??!!.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
” Sesungguhnya mereka menjadikan syaithan – syaithan sebagai wali (pelindung mereka) selain Allah, dan mereka mengira mereka mendapat petunjuk ” ( Qs. Al’Araaf : 30 )

Akhirnya tidak sedikit yang menjadi korban dari meletusnya gunung merapi, termasuk orang yang katanya mendapat wangsit itu (mbah maridjan sendiri) dan orang yang mengikutinya.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman :
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ
“ Katakanlah wahai (Muhammad) tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah “ (Qs. An-Naml :65)

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurrahman As-sa’di Rahimahullah : “ Allah mengikrarkan bahwa Dia sematalah yang mengetahui perkara yang ghaib di langit dan di bumi sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “ Pada sisi Allah lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahui perkara yang ghoib kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan dilautan dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun di kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. Dan Allah Ta’ala berfirman “ Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim…” sampai akhir surat. Perkara ghaib dan yang semisalnya merupakan kekhususan bagi Allah dalam pengilmuanNya, tidak ada yang mengetahuinya baik itu malaikat yang terdekat atau nabi yang diutus.” (Taisirul Karimir Rahman Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam ayat ini)
Kedua : Mbah Maridjan beribadah kepada Allah dan juga beribadah kepada selain Allah.

Jika seorang muslim mengetahui sedikit saja ilmu agama dengan pemahaman yang benar insya Allah dia tidak akan salah menilai sosok seorang mbah maridjan. Tapi jauhnya mereka dari ilmu agama yang benar sehingga mereka diselimuti kebodohan yang sangat. Pengetahuan seseorang tentang mbah maridjan, bahwasannya mbah maridjan disamping beribadah kepada Allah dengan sholat, puasa baca Al Qur’an dan yang lainnya tetapi disisi lain mbah maridjan juga beribadah kepada selain Allah, bertaqarub (mendekatkan) diri kepada selain Allah dengan berbagai macam ibadah, diantaranya menyediakan sesajen kepada para penunggu dan penguasa yang mbah maridjan yakini sebagai para penunggu dan penguasa gunung merapi. Jelas ini perbuatan syirik dan kekufuran, bermula pada kesyrikkan dalam Rububiyah Allah dan berimbas pada perbuatan syirik dalam Uluhiyyah Allah.

Islam adalah agama tauhid, yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang kita beribadah kepada selain Allah, kepada gunungkah, jinkah atau selain mereka. Bahkan tauhid adalah inti agama dan dakwahnya para Rasul.

Allah Ta’ala Berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya :  ” Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Berkata Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anhu : “Setiap apa yang terdapat didalam Al -Qur’an dari ibadah, bermakna tauhid” ( Tafsir Al Baghowi, dinukil dari Syarh Qawaidul Arba’ Syaikh Khalid Ar Radadi)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (Qs. Al Fatiha : 5 )

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
” Dan sunnguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk mendakwahkan) sembahlah Allah dan jauhilah thagut “ ( Qs. An Nahal : 36 ) 

Berkata Asy Syaikh ‘Al ‘Alaamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah : ” Faedah yang dapat diambil dalam ayat ini bahwasannya hikmah dari diutusnya para Rasul adalah dakwah kepada tauhid dan melarang dari perbuatan syirik “ ( Al Mulakhos fi Syarhi Kitab At Tauhid : 11 )

Ini diantara ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang untuk beibadah kepada selain Allah. Maka jika seorang mencampur ibadahnya dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dengan kesyirikan yang besar atau dengan tanpa tauhid maka sia-sialah amalannya.

Berkata Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab An Najdi Rahimahullah :” Ketahuilah Ibadah tidaklah dinamakan sebagai sebuah ibadah kecuali jika disertai dengan tauhid (orangya hanya beribadah kepada Allah semata -pen) sebagaimana tidak dikatakan sholat kecuali dalam keadaan thaharah (suci). Apabila  syirik masuk kedalam ibadah akan membatalkan ibadah sebagaimana hadast apabila masuk kedalam thaharah “ (Qawaidul Arba’)

Berkata Asy Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah : “ Apabila kamu telah mengetahui ini bahwasannya ibadah tidak diterima kecuali dengan mentauhidkan Allah (beribadah hanya kepada Allah semata -pen) demikian juga sholat tidak diterima kecuali dalam keadaan thaharah (suci), dikarenakan tauhid (beribadah hanya kepada Allah semata -pen)  syarat diterimanya ibadah, yaitu ikhlas dan thaharah (suci) syarat dari sahnya shalat, dimana tidak sah shalat kecuali apabila dia dalam keadaan thaharah (suci), begitu juga tidak sah ibadah seseorang kecuali apabila dia seorang yang mentauhidkan Allah. Walau seandainya jidadnya ada bekas sujud, puasa disiang hari dan shalat dimalam hari. Dikarenakan syarat diterimanya itu semua adalah dilakukan oleh seorang Muwwahid (orang yang hanya beribadah kepada Allah semata) yang ikhlas.

Allah Jalla wa’alaa berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“ Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu, sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi, karena itu hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang yang bersyukur “ ( Qs. Az Zummar : 65-66 )

Allah Jalla wa’alaa berkata kepada orang kafir
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“ Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan(Qs. Al Furqan : 23)

(Syarah Al Qawaidul Arba’ Syaikh Shalih Alu Syaikh: 11)
Coba kita lihat diantara salah satu perkataan mbah maridjan yang menunjukkan sosok mbah maridjan, yaitu ketika dia berkata kepada detikcom ketika ditemui dirumahnya kamis18/52006; mbah maridjan berkata : “ saya disana berdoa, minta kepada Allah dengan ‘lantaran’ merapi” 

Lalu kita tengok perkataan seorang ulama yang menjelaskan tentang perbuatan-perbuaan yang dapat membatalkan kesislaman seseorang. Berkata Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab An Najdi Rahimahullah : “ Barangsiapa yang menjadikan adanya perantara antara dirinya dengan Allah, Mereka berdoa, meminta syafaat dan bertawakal kepada perantara tersebut maka dia telah kafir menurut kesepakatan para ulama “ (Kitab Nawaqidul Islam)

Dalil tentang hal ini adalah firman Allah Ta’ala
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“ Ingatlah! hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia  (berkata) : “ Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh Allah akan memberi putusan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada seorang pendusta dan orang yang kafir” (Qs. Az Zumar : 3 )

Lihatlah pada ayat yang mulia ini Allah memerintahkan kita untuk beibadah kepada Allah semata, mengikhlaskan agama dan ketaatan hanya untuk Nya, tetapi mereka malah menyembah selain Allah dengan cara menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah didalam peribadatan kepada Nya. Yang mereka menyembah perantara itu dengan berbagai macam ibadah. Lalu Allah katakan apa pada diakhir ayat, yaitu sebagai seorang pendusta lagi kafir (هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ)

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَوَاتِ وَلا فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“ Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat , dan mereka berkata : “ Mereka itu adalah pemberi syafaat kami dihadapan Allah.” Katakanlah : “apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-NYa apa yang ada dilangit dan dibumi?. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu “ (Qs. Yunus : 18 )

Pada ayat ini Allah mensucikan diri Nya sendiri dari perbutan syirik mereka, yaitu mereka menjadikan perantara antara dirinya dengan Allah yang beribadah kepada perantara tersebut, baik perantara itu berhala, orang atau gunung, lalu Allah katakan apa diakhir ayat tentang orang yang melakukan perbuatan tesebut dengan perkataan “ Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan itu سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ), Allah katakan perbuatan mereka sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Allah).

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang dosa syirik (menyekutukkan Allah) :
إِنَّ اللهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya ” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsipa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 ) 

مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : ” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 ) 

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“ Sungguh jika engkau berbuat syirik (mempersekutukan Allah), niscaya akan hapuslah amalan mu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi “(Qs. Az Zummar : 65-66)

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“ Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan(Qs. Al Furqan : 23)

Insya Allah dari penjelasan diatas kita bisa menilai sosok mbah maridjan dengan penilaian yang benar, berdasarkan ilmu bukan kebodohan atau ketertipuan dari pengaruh media masa, ternyata mbah maridjan seorang yang melakukan kesyirikan didalam Rububiyah Allah dan Uluhiyah Nya, baik kesyirikan yang besar atau yang kecil, begitu juga dia mengaku mengetahui perkara yang ghaib (dukun) padahal yang mengetahui perkara yang ghaib hanyalah Alah semata dan perkara syirik lainnya, apakah masih ada yang menilai mbah maridjan seorang yang shalih dan patut dijadikan teladan…???!!! Dipuji dan dikagumi…???!!! Berkata Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin, menjelaskan pengertian orang shalih. Orang shalih adalah orang yang menunaikan hak Allah dan hamba-hamba Nya (Syarh Kasyfu Subhaat). Hak Allah yang terbesar adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah semata. Kalau hak yang terbesar Allah saja tidak dipenuhi oleh mbah maridjan apakah dia pantas dikatakan sebagai seorang shalih lalu mati dalam keadaan khusnul khatimah (kesudahan yang baik)…??!!.

Wahai kaum muslimin jagalah aqidah dan keimananmu dari segala kesyirikkan, khurofat dan perdukunan. Dan bertawakalah wahai para pengelola media massa jangan kalian jerumuskan ummat kegelapnya kebodohan dan najisnya kesyirikkan, kekufuran dan perdukunan. Dunia ini hanya sementara kelak kalian akan dimaintai pertanggung jawabannya…!!!


Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menilai Sosok Mbah Maridjan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEht1katDs4y41W4qtNucP-VQ14aqCcNeG2ywgo8eTHxblMc9R7DozVQ9vCMuiLfgaNGLPvzMafjRZRPr3Qq81ZHG7wp8qxZYLXN6nxv_BYdJwKHt1ClMDH5OOqMiLfmpgLuxdd_Ue1DZvsd/s72-c/Merapi-01-Luar.jpg
View detail

Hukum Mendatangi dan Memanfaatkan Jasa Paranormal

Paranormal
Oleh: Purnomo WD

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semog terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Pada tulisan Mengingatkan Bahaya Paranormal dan Kesyirikan-Nya dalam voa-islam.com pada Kamis, 25 Nov 2010 lalu, dikupas tentang sosok Ki Kusumo yang akan segera menelurkan film berbau mistik dengan bumbu adegan seks, ‘13 Cara Memanggil Setan'.

Diakui sosok Ki Kusumo tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, terlebih setelah sosok Paranormal ini terlibat dalam dunia perfilman dan diekspos dalam tayangan infotainment oleh beberapa media televisi. Dari beberapa sumber yang disebutkan dalam tulisan di atas, Ki Kusumo terbukti melakukan praktek perdukunan, ramalan, dan sihir. Sedangkan pada umumnya, praktek tersebut tidak jauh dari memanggil syetan dan meminta bantuannya. Bukti ini diperkuat dengan hadirnya film garapannya ‘13 Cara Memanggil Setan'. Sedangkan meminta bantuan Jin atau syetan termasuk bagian dari kesyirikan.

Sedangkan pengakuan mengetahui ilmu ghaib, mampu menerawang nasib atau kejadian di masa akan datang termasuk bagian dari kekufuran. Karena mengingkari kabar berita Al-Qur’an bahwa hanya Allah semata yang mengetahui ilmu ghaib. Juga menempatkan dirinya sebagai patner maupun rival bagi Allah dalam hal yang menjadi kekhususan-Nya ini.
Oleh karena itu, dalam tulisan berikut ini akan dijelaskan hukum mendatangi dan memanfaatkan jasa para normal yang mempraktekkan perdukunan, ramalan, dan sihir. Semoga Allah meridhai upaya ini dan memberikan kemudahan, amiin.
Kekafiran dukun dan tukang ramal:
- Meminta bantuan jin dengan melaksanakan syarat dan tuntutan yang diajukannya untuk mau membantu.
- Mengaku mengetahui/bisa menyingkap ilmu ghaib yang menjadi hak Allah semata.
Hukum mendatangi dukun dan tukang ramal
Sesungguhnya mendatangi dukun dan tukang ramal untuk menanyakan sesuatu kepadanya berkaitan dengan sakit, nasib masa depan, atau untuk mengabarkan sesuatu yang ghaib seperti barang hilang, dan yang semisalnya tidak diperbolehkan dalam Islam. Hukumnya haram. Apalagi kalau sampai meyakini dan membenarkan apa yang mereka katakan. Karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin, dan meminta tolong kepada jin-jin itu tentang sesuatu yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan kufur dan kesesatan.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barang siapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, dan dalam riwayat lain disebutkan empat puluh hari).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barang siapa mendatangi dukun atau rukang ramal, lalu membenarkan apa yang ia katakana, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Ahlussunan yang empat dan dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Bukhari – Muslim)

Dari Imran bin Hushain radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bukan dari golongan kami orang yang meramal nasib dan yang minta diramalkan, orang yang melakukan praktek perdukunan dan yang memanfaatkan jasa perdukunan, yang melakukan praktek sihir (tenung) atau yang memanfaatkan jasa sihir (minta ditenungkan). Dan barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad Jayyid).

Dari beberapa hadits di atas, dapat dipahami secara jelas haramnya mendatangi dukun dan tukang ramal, menanyakan dan meyakini/membenarkan apa yang disampaikannya. Hanya saja kalau sebatas mendatangi dan menanyakan, maka hukumannya adalah tidak diterima shalat selama empat puluh hari empat puluh malam. Kecuali kedatangannya tadi dengan tujuan untuk menguji atau untuk menunjukkan kelemahan dan kedustaan dukun dan tukang ramal. Kalau seperti ini dibolehkan, bahkan dianjurkan.

Hukuman berat tersebut dijatuhkan karena dalam tindakannya tersebur menimbulkan kerusakan yang besar. Dukun dan tukang ramal semakin termotifasi dan percaya diri. Sedangkan orang awam akan tertipu dengan kedatangannya tersebut, seolah-olah hal tersebut legal dan halal karena orang yang shalih juga mendatanginya. Selain itu, mereka akan penasaran dan terdorong untuk memanfaatkan jasa dukun dan tukang ramal tersebut karena banyaknya orang yang datang. Selain itu, perbuatan tersebut menunjukkan keridhaannya terhadap sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 
  
Sedangkan bagi yang sampai meyakini dan membenarkan para dukun dan tukang ramal, lalu melaksanakan titah dan anjuran mereka, maka ia telah kufur terhadap Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an mengabarkan bahwa tidak ada yang mengetahui perihal ilmu keghaiban kecuali Allah Ta’ala,
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah".” (QS. Al-Naml: 65)

Syaikh Utaimin rahimahullaah berkata dalam al-Qaul al-Mufid: 1/335, bahwa dalam ayat tersebut terdapat nafyun (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Peniadaan orang yang mengetahui ilmu ghaib. Dan penetapan bahwa yang mengetahuinya hanya Allah semata. Maka orang yang membenarkan dukun dan tukang ramal dalam kabar ghaib yang disampaikannya padahal dia tahu hanya Allah semata yang mengetahui perihal ilmu ghaib, maka sungguh dia telah melakukan kufur besar yang mengeluarkannya dari Islam. Dan apabila dia jahil tidak meyakini bahwa di dalam Al-Qur’an tedapat kebohongan, maka dia telah kufrun duna kufrin (kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam.

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz
Memperkuat bahasan di atas kami sertakan fatwa seorang ulama besar kerajaan Saudi Arabia, syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz. Beliau pernah ditanya tentang mendatangi dukun dan tukang ramal (peramal), bertanya dan berobat kepada mereka.
Beliau menjawab, “Tidak boleh mendatangi dukun, tukang ramal, tukang sihir, ahli nujum dan yang semisal mereka. Tidak boleh pula bertanya kepada mereka dan membenarkan ucapan mereka. Berobat kepada mereka juga tidak boleh walaupun menggunakan minyak dan selainnya. Karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam telah melarang mendatangi, bertanya, dan membenarkan mereka. Sebabnya, karena mereka mengaku mengetahui ilmu ghaib, membohongi manusia, dan mengajak mereka untuk menyimpang dari akidah yang benar.

Terdapat kabar yang shahih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Siapa yang mendatangi tukang ramal, lalu bertanya sesuatu kepadanya maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam besabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافاً أَوْ كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap yang diturunkan kepada  Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Ahlussunan dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

Dan juga bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Bukan dari golongan kami orang yang meramal nasib dan yang minta diramalkan, orang yang melakukan praktek perdukunan dan yang memanfaatkan jasa perdukunan . . . ” (HR. Bazzar dengan sanad Jayyid dari Imran bin Hushain) Hadits-hadits yang semakna dalam masalah ini sangat banyak.

Dan al-hamdulillah, sesungguhnya berobat dengan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah berupa ruqyah dan berobat-berobat yang dibolehkan kepada orang yang dikenal memiliki akidah dan akhlak yang baik sudah cukup banyak.” (Dinukil dari majalah al-Dakwah, edisi 1498, tanggal 8/2/ 1426 H.)
Mendatangi dukun:
* Hanya iseng bertanya: tidak diterima shalatnya selama 40 hari/malam
* Bertanya dan meyakini/membenarkan perkataannya: kafir terhadap Al-qur'an, keluar dari Islam
Penutup

Semoga bahasan singkat ini menyadarkan umat Islam yang tertipu dengan penampilan dan aksi-aksi para dukun dan tukang ramal. Mengembalikan mereka ke dalam kebenaran. Mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi dengan sarana yang dihalalkan dan diperbolehkan.
Kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib bagi mereka mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun, dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar atau di tempat-tempat lainnya dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan.

Dan hendaknya umat Islam tidak tertipu dengan pengakuan segelintir manusia bahwa apa yang diramalkannya benar terjadi. Karena orang–orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut. Bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Paranormal
Oleh: Purnomo WD

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semog terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Pada tulisan Mengingatkan Bahaya Paranormal dan Kesyirikan-Nya dalam voa-islam.com pada Kamis, 25 Nov 2010 lalu, dikupas tentang sosok Ki Kusumo yang akan segera menelurkan film berbau mistik dengan bumbu adegan seks, ‘13 Cara Memanggil Setan'.

Diakui sosok Ki Kusumo tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, terlebih setelah sosok Paranormal ini terlibat dalam dunia perfilman dan diekspos dalam tayangan infotainment oleh beberapa media televisi. Dari beberapa sumber yang disebutkan dalam tulisan di atas, Ki Kusumo terbukti melakukan praktek perdukunan, ramalan, dan sihir. Sedangkan pada umumnya, praktek tersebut tidak jauh dari memanggil syetan dan meminta bantuannya. Bukti ini diperkuat dengan hadirnya film garapannya ‘13 Cara Memanggil Setan'. Sedangkan meminta bantuan Jin atau syetan termasuk bagian dari kesyirikan.

Sedangkan pengakuan mengetahui ilmu ghaib, mampu menerawang nasib atau kejadian di masa akan datang termasuk bagian dari kekufuran. Karena mengingkari kabar berita Al-Qur’an bahwa hanya Allah semata yang mengetahui ilmu ghaib. Juga menempatkan dirinya sebagai patner maupun rival bagi Allah dalam hal yang menjadi kekhususan-Nya ini.
Oleh karena itu, dalam tulisan berikut ini akan dijelaskan hukum mendatangi dan memanfaatkan jasa para normal yang mempraktekkan perdukunan, ramalan, dan sihir. Semoga Allah meridhai upaya ini dan memberikan kemudahan, amiin.
Kekafiran dukun dan tukang ramal:
- Meminta bantuan jin dengan melaksanakan syarat dan tuntutan yang diajukannya untuk mau membantu.
- Mengaku mengetahui/bisa menyingkap ilmu ghaib yang menjadi hak Allah semata.
Hukum mendatangi dukun dan tukang ramal
Sesungguhnya mendatangi dukun dan tukang ramal untuk menanyakan sesuatu kepadanya berkaitan dengan sakit, nasib masa depan, atau untuk mengabarkan sesuatu yang ghaib seperti barang hilang, dan yang semisalnya tidak diperbolehkan dalam Islam. Hukumnya haram. Apalagi kalau sampai meyakini dan membenarkan apa yang mereka katakan. Karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin, dan meminta tolong kepada jin-jin itu tentang sesuatu yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perbuatan kufur dan kesesatan.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barang siapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, dan dalam riwayat lain disebutkan empat puluh hari).

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barang siapa mendatangi dukun atau rukang ramal, lalu membenarkan apa yang ia katakana, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Ahlussunan yang empat dan dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Bukhari – Muslim)

Dari Imran bin Hushain radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bukan dari golongan kami orang yang meramal nasib dan yang minta diramalkan, orang yang melakukan praktek perdukunan dan yang memanfaatkan jasa perdukunan, yang melakukan praktek sihir (tenung) atau yang memanfaatkan jasa sihir (minta ditenungkan). Dan barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad Jayyid).

Dari beberapa hadits di atas, dapat dipahami secara jelas haramnya mendatangi dukun dan tukang ramal, menanyakan dan meyakini/membenarkan apa yang disampaikannya. Hanya saja kalau sebatas mendatangi dan menanyakan, maka hukumannya adalah tidak diterima shalat selama empat puluh hari empat puluh malam. Kecuali kedatangannya tadi dengan tujuan untuk menguji atau untuk menunjukkan kelemahan dan kedustaan dukun dan tukang ramal. Kalau seperti ini dibolehkan, bahkan dianjurkan.

Hukuman berat tersebut dijatuhkan karena dalam tindakannya tersebur menimbulkan kerusakan yang besar. Dukun dan tukang ramal semakin termotifasi dan percaya diri. Sedangkan orang awam akan tertipu dengan kedatangannya tersebut, seolah-olah hal tersebut legal dan halal karena orang yang shalih juga mendatanginya. Selain itu, mereka akan penasaran dan terdorong untuk memanfaatkan jasa dukun dan tukang ramal tersebut karena banyaknya orang yang datang. Selain itu, perbuatan tersebut menunjukkan keridhaannya terhadap sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 
  
Sedangkan bagi yang sampai meyakini dan membenarkan para dukun dan tukang ramal, lalu melaksanakan titah dan anjuran mereka, maka ia telah kufur terhadap Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an mengabarkan bahwa tidak ada yang mengetahui perihal ilmu keghaiban kecuali Allah Ta’ala,
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah".” (QS. Al-Naml: 65)

Syaikh Utaimin rahimahullaah berkata dalam al-Qaul al-Mufid: 1/335, bahwa dalam ayat tersebut terdapat nafyun (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Peniadaan orang yang mengetahui ilmu ghaib. Dan penetapan bahwa yang mengetahuinya hanya Allah semata. Maka orang yang membenarkan dukun dan tukang ramal dalam kabar ghaib yang disampaikannya padahal dia tahu hanya Allah semata yang mengetahui perihal ilmu ghaib, maka sungguh dia telah melakukan kufur besar yang mengeluarkannya dari Islam. Dan apabila dia jahil tidak meyakini bahwa di dalam Al-Qur’an tedapat kebohongan, maka dia telah kufrun duna kufrin (kufur yang tidak mengeluarkan dari Islam.

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz
Memperkuat bahasan di atas kami sertakan fatwa seorang ulama besar kerajaan Saudi Arabia, syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz. Beliau pernah ditanya tentang mendatangi dukun dan tukang ramal (peramal), bertanya dan berobat kepada mereka.
Beliau menjawab, “Tidak boleh mendatangi dukun, tukang ramal, tukang sihir, ahli nujum dan yang semisal mereka. Tidak boleh pula bertanya kepada mereka dan membenarkan ucapan mereka. Berobat kepada mereka juga tidak boleh walaupun menggunakan minyak dan selainnya. Karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam telah melarang mendatangi, bertanya, dan membenarkan mereka. Sebabnya, karena mereka mengaku mengetahui ilmu ghaib, membohongi manusia, dan mengajak mereka untuk menyimpang dari akidah yang benar.

Terdapat kabar yang shahih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Siapa yang mendatangi tukang ramal, lalu bertanya sesuatu kepadanya maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam besabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافاً أَوْ كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap yang diturunkan kepada  Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.” (HR. Ahlussunan dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

Dan juga bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Bukan dari golongan kami orang yang meramal nasib dan yang minta diramalkan, orang yang melakukan praktek perdukunan dan yang memanfaatkan jasa perdukunan . . . ” (HR. Bazzar dengan sanad Jayyid dari Imran bin Hushain) Hadits-hadits yang semakna dalam masalah ini sangat banyak.

Dan al-hamdulillah, sesungguhnya berobat dengan sesuatu yang dibolehkan oleh Allah berupa ruqyah dan berobat-berobat yang dibolehkan kepada orang yang dikenal memiliki akidah dan akhlak yang baik sudah cukup banyak.” (Dinukil dari majalah al-Dakwah, edisi 1498, tanggal 8/2/ 1426 H.)
Mendatangi dukun:
* Hanya iseng bertanya: tidak diterima shalatnya selama 40 hari/malam
* Bertanya dan meyakini/membenarkan perkataannya: kafir terhadap Al-qur'an, keluar dari Islam
Penutup

Semoga bahasan singkat ini menyadarkan umat Islam yang tertipu dengan penampilan dan aksi-aksi para dukun dan tukang ramal. Mengembalikan mereka ke dalam kebenaran. Mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi dengan sarana yang dihalalkan dan diperbolehkan.
Kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib bagi mereka mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun, dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka. Kepada yang berwenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar atau di tempat-tempat lainnya dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan.

Dan hendaknya umat Islam tidak tertipu dengan pengakuan segelintir manusia bahwa apa yang diramalkannya benar terjadi. Karena orang–orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut. Bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum, dan larangan terhadap perbuatan yang mereka lakukan. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Hukum Mendatangi dan Memanfaatkan Jasa Paranormal
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2sBkvPrm9shX8MEoobJLUCuJrLqPJYeuSAwkmxIwfs4fpkQb63-smptrEUDl2tkPCEkKqNFKoMooWRH2RrZk2K_M2sY0WxQbhQDYNrwuWIuyAG3VGyBQ3j3vTzPEi6CBbqEbZ8V_vZLeF/s72-c/paranormal_state_a_e_1-150x150.jpg
View detail

Mengimani Yang Ghaib Sesuai Syari`at

Mengimani Yang Ghaib Sesuai Syari`at
Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q. S. Al Baqarah : 1-5).

Penggalan ayat di atas tadi menjadi pembukaan kajian oleh Ust. Aris. Beliau menyatakan bahwa ayat inilah dasar utama yang meyakinkan kepada kita akan pentingnya keimanan pada hal yang ghaib. Hal ini juga dipertegas dengan ungkapan sesungguhnya peringatan akan hal yang ghaib menjadikan iman kita semakin kokoh dan tidak menjadikan kita salah kaprah memahami hal yang ghaib. Hal-hal ghaib perlu dipahami dengan benar agar tidak sampai keluar dari koridor sesuai syar’i.

Penjelasan lebih lanjut akan penggalan awal Surat Al Baqarah, penggalan tersebut pada intinya bermakna bahwa Al Qur’an yang sempurna dan tiada cacat di dalamnya mencantumkan iman kepada ghaib sebagai salah satu tanda orang yang beriman dan bertakwa. Bahkan, keimanan ini adalah hal pertama yang harus diimani sebelum yang lain dan merupakan hal pokok. Bila tidak mengimani hal yang ghaib, maka keimanan seseorang akan disangsikan. Mempercayai adanya Allah adalah satu bagian utama juga dari keimanan kepada hal yang ghaib, sehingga hal ini menjadi penting. Begitu pula halnya dengan hal ghaib lainnya, seperti setan, malaikat, iblis, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Dalam mengimani hal yang ghaib, perlu diketahui terlebih dahulu makna yang benar dari beberapa istilah yang berhubungan dengan hal ghaib. Pengertian yang benar akan istilah-istilah yang ghaib harus dilandaskan sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Iman kepada perkara yang ghaib wajib hukumnya karena ia adalah bagian dari rukun iman. Sungguh amat disayangkan, betapa banyak orang yang keliru dalam memaknainya.

Menurut Imam Qotadah dan Abul Aliyah, ghaib adalah Allah, Para malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya, hari akhir, surga, neraka, pertemuan dengan Allah, hidup setelah kematian. Itu semua adalah ghaib, hal yang tidak dapat kita ketahui. Sedangkan yang lain mengatakan takdir juga termasuk hal ghaib. Mempercayai hal yang ghaib bukanlah hal yang berkaitan dengan syirik karena pendapat semacam ini tidak berdasar.
Jin
Jin adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan mempunyai fungsi yang sama dengan manusia sebagaimana Q. S. Adz Dzariyat : 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dengan demikian tidak semua jin itu kafir, suka berbuat onar, munafik, dan hal negatif lainnya. Terdapat juga jin yang muslim, hal ini dipertegas juga dalam Q. S. Al Jin : 11, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” Sehingga dapat dipahami juga beberapa kejadian kesurupan yang menyebutkan jin yang masuk adalah jin muslim, jin kafir, dan lainnya.

Jin secara harfiyah berarti sesuatu yang tersembunyi. Allah SWT dalam Al-Qur`an telah menjelaskan bahwa jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Jin diciptakan dari nyala api sebagaimana disebutkan, “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Q.S. 55 : 15).

Ada beberapa kemungkinan bila ada orang yang mengaku dapat melihat jin. Bisa jadi orang tersebut berbohong, memang kesurupan jin , atau memang punya ilmu yang memasukkan jin ke dalam dirinya, sehingga dapat melihat jin sebangsanya. Menurut Imam Syafi’i, apabila ada orang yang mengaku dapat melihat jin dalam bentuk aslinya, maka persyahadatannya tertolak karena sebenarnya hal ini termasuk kebohongan. Kalau diistilahkan dengan penampakan, maka hal ini dapat dimaklumi karena jin diberikan karunia oleh Allah untuk dapat menyerupai apa saja dengan izin Allah dan tidak lama (hanya sebentar).

Apabila melihat penampakan, maka sebaiknya jangan lari dan langsung saja mengucapkan basmalah. Apabila penampakan itu masih ada, coba lempar sesuatu ke arahnya dan pastikan apakah ia benar ghaib atau makhluk nyata. Jin juga sebenarnya bisa ditangkap tanpa perlu ilmu macam apa pun.

Sebagaimana halnya kisah Abu Hurairah RA saat dirinya menjabat sebagai penjaga rumah zakat dalam suatu hadits panjang riwayat Bukhari. Dalam hadits tersebut, diceritakan Abu Hurairah RA menangkap seorang kakek pencuri. Setelah mengakui kesalahannya dan memohon ampun karena keterdesakan kebutuhan keluarganya, maka ia dilepaskan lagi, tetapi keesokan harinya ia mencuri lagi, ditangkap lagi. Sampai ketiga kalinya tertangkap, akhirnya ia ditangkap, sebelum dilepaskan ia mengajarkan cara menangkal syaitan yaitu ayat kursi, ”Kalau engkau baca ayat itu, maka engkau akan terhindar dari gangguanku”. Setelah itu ia pergi kepada Rasulullah dan menceritakannya dan Rasulullah membenarkannya khusus untuk membaca ayat itu, sedangkan untuk yang lain-lainnya adalah kebohongan. Abu Hurairah tidak tahu bahwa yang mengajarkan itu adalah setan. Ia mengetahui bahwa kakek itu adalah setan setelah diberitahu oleh Rasulullah SAW.

Dari hadits tersebut ini, dapat diperoleh pemahaman bahwa jin juga dapat dipegang dan ditangkap. Disebutkan juga ada kisah lain dari sahabat Nabi yang baru saja pulang dari perang, beliau menemukan ular di dalam rumahnya. Tanpa pikir panjang, ular tersebut langsung dibunuh olehnya. Hanya saja ternyata ular itu masih hidup dan melarikan diri. Sahabat itu pun mengejar ular tersebut, hingga akhirnya mereka keduanya mati. Ularnya terbunuh dan juga sahabat mati terpatuk oleh ular itu. Hingga akhirnya kisah itu sampai kepada Rasul. Rasul pun berkata bahwa jin dapat menyerupai dalam bentuk ular. Apabila ia di dalam rumah, maka usirlah terlebih dahulu. Bila tidak keluar dari rumah, maka tunggu sampai 3 hari. Apabila tidak keluar dalam rentang waktu tersebut, maka ular itu adalah makhluk nyata.

Dalam Al Qur’an juga dijelaskan, Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Q. S. 7 : 27). Maka, orang yang dapat melihat jin itu ada kemungkinan dimasuki jin, berbohong, atau berilmu yang dipelajari sehingga jin ikut serta.

Hadits “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh manusia lewat aliran darah” (H. R. Bukhari dan Muslim) sinkron dengan suatu hadits yang mengatakan bahwa makanan halal akan membentuk pribadi kita. Sebaliknya juga dengan makanan yang haram. Sehingga, dalam doa sebelum makan, terdapat permohonan agar rezeki yang masuk dalam tubuh itu berkah dan menjadikan kita tetap dalam ketaatan. Memakan makanan haram akan menjadikan dalam aliran darah hal yang tidak baik bersama setan dan enggan melakukan ketaatan, kalau pun dapat melakukannya, hal itu adalah kepura-puraan semata.

Iblis
Setan, iblis, jin adalah satu sebenarnya, sehingga tidak ada istilah tersendiri. Dalam Q. S. Al Kahfi : 50, “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” Berdasar ayat ini, ditafsirkan beberapa pendapat bahwa iblis adalah segolongan malaikat yang tidak sujud atau memang jin yang tidak sujud itu disebut Allah semuanya adalah iblis. Namun, satu hal yang pasti bahwa iblis bukanlah makhluk sendiri, melainkan bagian dari golongan makhluk jin.
Berhubungan dengan jumlah iblis, iblis itu hanya ada satu dan dia adalah pemimpin dari para setan. Hal ini secara jelas telah diungkap oleh Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 50 di atas, ungkapan iblis itu hanya satu. Sedangkan, yang banyak itu adalah anak buahnya yaitu setan. Iblis bersumpah untuk menyesatkan manusia dengan tentara setannya dan sumpah ini dikabulkan oleh Allah, sehingga ia akan terus ada hingga nantinya kiamat kelak, sehingga tidak bisa mati.

Setan yang melewati batas alamnya relatif mudah untuk dihadapi oleh manusia, begitu pula bila manusia yang sudah memasuki alam ghaib, maka susah untuk mempertahankan diri. Perbedaan antara dua dunia ini dapat dianalogikan dengan ikan yang berada di luar habitat airnya. Apabila tidak berada di habitatnya sendiri, maka ikan menjadi lemah tak berdaya. Hal ini yang dapat terjadi pada jin dan manusia apabila melewati batas antara dua dunia.
Dalam Q. S. Al An’am : 112, “Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” Maka, jelaslah apabila ada jin setan yang membisikkan was-was sebagaimana juga disebutkan dalam Q. S. An Naas bahwa ada setan berupa jin dan manusia yang membuat manusia was-was.

Roh gentayangan
Roh gentayangan itu sebenarnya tidak ada karena tidak ada ruh yang bebas berkeliaran setelah jasadnya wafat. Pada ayat Q. S. 23 : 99-100, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja…”, sudah jelas bahwa segala sesuatunya sudah terputus bagi seorang manusia yang telah meninggal. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa jika anak cucu Adam meninggal, terputus amalnya, kecuali tiga perkara yaitu amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak shaleh. Sehingga, apabila masih ada semacam makhluk menyerupai orang yang meninggal tadi dan mengganggu yang masih hidup, maka kejadian ini sangat tertolak dengan hadits sebelumnya. Pada Q. S. Al Muthaffifin juga menyebutkan bahwa ruh orang yang baik maupun buruk sudah terkekang dalam alamnya sendiri. Bisa jadi sebenarnya yang tampak seperti orang yang meninggal itu adalah setan atau qarin yang selalu mendampingi orang tersebut selama hidup. Apabila ada penampakan roh gentayangan yang mengganggu dan berusaha menggoyahkan aqidah, maka bukan berarti roh tersebut tertolak oleh Allah dan dikembalikan ke dunia karena hal ini tidak mungkin terjadi.

Imam Mujahid ketika menafsirkan kalimat barzakh, beliau mengatakan, “itu adalah pembatas antara kematian dengan alam dunia”. Sehingga, selesailah sudah urusan orang yang meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan jangan juga berdoa mengharap kematian. Karena apabila engkau meninggal maka terputuslah amalnya. Sesungguhnya tidaklah bertambah umur seorang muslim melainkan untuk kebaikan.” (H. R. Muslim) Sehingga sudah jelas sekali bahwa roh tidak bisa kembali dan membuat onar walaupun dulu sewaktu di dunia memang suka mengacaukan sekitarnya. Setan yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengganggu manusia.

Khodam
Khodam secara harfiah berarti pembantu. Istilah khodam dikenal di masyarakat dengan adanya kabar tentang kiai yang mempunyai khodam berupa malaikat. Pada Q. S. 66 :6 disebutkan bahwa, ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Dari firman ini, maka tersirat bahwa malaikat tidak mungkin tunduk kepada manusia. Sehingga, patut dipertanyakan ibadah seperti apa yang menjadikan malaikat tunduk kepada manusia. Kalau pun ada kelebihan tidak wajar yang dimiliki oleh para ahli ibadah itu, maka perlu diteliti apakah memang ibadahnya sesuai syar’i atau tidak. Bisa jadi memang kelebihan itu menjadi karomah yang diberikan Allah, tetapi karomah tidak mungkin muncul berulang-ulang, dan orang yang mendapatkannya juga tidak merasakan sebagaimana mukjizat nabi dan rasul yang hanya bisa terjadi atas kehendak Allah pada waktu-waktu tertentu. Kalau pun ada kisah malaikat yang hendak memberikan perlindungan kepada Rasul, hal ini bukan berarti malaikat tunduk pada Rasul, melainkan hal tersebut atas kehendak Allah.

Bisa jadi juga bahwa ada jin yang mengaku sebagai malaikat yang mau menjadi khodam seseorang. Akan tetapi, untuk menentukan jin itu muslim atau tidak bukanlah hal yang mudah. Karena sebagaimana kisah Abu Hurairah ada juga setan yang hafal ayat kursi. Hal ini berarti bahwa tidak serta merta jin yang bisa membaca Al Qur’an dan berbahasa Arab itu muslim sebagaimana layaknya manusia kafir yang juga masih bisa membaca dan mengucapkan sesuatu dengan bahasa Arab. Satu hal yang jelas dari sifat jin muslim adalah dirinya tidak akan mau tunduk kepada manusia karena pada hakikatnya mereka dan manusia adalah sama seperti yang disebutkan dalam Q. S. Adz Dzariyat : 56.

Jin yang mengaku khodam itu biasanya merupakan jin yang munafik. Jin tersebut juga akan meminta hal yang aneh-aneh dalam pengakuannya itu dengan pengelabuan seperti tapabroto, patigeni, dan lainnya. Bisa juga dalam  permintaan semacam ibadah yang tidak wajar, seperti dzikir yang berlebihan dan hal janggal lainnya.

Mengimani Yang Ghaib Sesuai Syari`at
Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q. S. Al Baqarah : 1-5).

Penggalan ayat di atas tadi menjadi pembukaan kajian oleh Ust. Aris. Beliau menyatakan bahwa ayat inilah dasar utama yang meyakinkan kepada kita akan pentingnya keimanan pada hal yang ghaib. Hal ini juga dipertegas dengan ungkapan sesungguhnya peringatan akan hal yang ghaib menjadikan iman kita semakin kokoh dan tidak menjadikan kita salah kaprah memahami hal yang ghaib. Hal-hal ghaib perlu dipahami dengan benar agar tidak sampai keluar dari koridor sesuai syar’i.

Penjelasan lebih lanjut akan penggalan awal Surat Al Baqarah, penggalan tersebut pada intinya bermakna bahwa Al Qur’an yang sempurna dan tiada cacat di dalamnya mencantumkan iman kepada ghaib sebagai salah satu tanda orang yang beriman dan bertakwa. Bahkan, keimanan ini adalah hal pertama yang harus diimani sebelum yang lain dan merupakan hal pokok. Bila tidak mengimani hal yang ghaib, maka keimanan seseorang akan disangsikan. Mempercayai adanya Allah adalah satu bagian utama juga dari keimanan kepada hal yang ghaib, sehingga hal ini menjadi penting. Begitu pula halnya dengan hal ghaib lainnya, seperti setan, malaikat, iblis, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Dalam mengimani hal yang ghaib, perlu diketahui terlebih dahulu makna yang benar dari beberapa istilah yang berhubungan dengan hal ghaib. Pengertian yang benar akan istilah-istilah yang ghaib harus dilandaskan sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Iman kepada perkara yang ghaib wajib hukumnya karena ia adalah bagian dari rukun iman. Sungguh amat disayangkan, betapa banyak orang yang keliru dalam memaknainya.

Menurut Imam Qotadah dan Abul Aliyah, ghaib adalah Allah, Para malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya, hari akhir, surga, neraka, pertemuan dengan Allah, hidup setelah kematian. Itu semua adalah ghaib, hal yang tidak dapat kita ketahui. Sedangkan yang lain mengatakan takdir juga termasuk hal ghaib. Mempercayai hal yang ghaib bukanlah hal yang berkaitan dengan syirik karena pendapat semacam ini tidak berdasar.
Jin
Jin adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan mempunyai fungsi yang sama dengan manusia sebagaimana Q. S. Adz Dzariyat : 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dengan demikian tidak semua jin itu kafir, suka berbuat onar, munafik, dan hal negatif lainnya. Terdapat juga jin yang muslim, hal ini dipertegas juga dalam Q. S. Al Jin : 11, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” Sehingga dapat dipahami juga beberapa kejadian kesurupan yang menyebutkan jin yang masuk adalah jin muslim, jin kafir, dan lainnya.

Jin secara harfiyah berarti sesuatu yang tersembunyi. Allah SWT dalam Al-Qur`an telah menjelaskan bahwa jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Jin diciptakan dari nyala api sebagaimana disebutkan, “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Q.S. 55 : 15).

Ada beberapa kemungkinan bila ada orang yang mengaku dapat melihat jin. Bisa jadi orang tersebut berbohong, memang kesurupan jin , atau memang punya ilmu yang memasukkan jin ke dalam dirinya, sehingga dapat melihat jin sebangsanya. Menurut Imam Syafi’i, apabila ada orang yang mengaku dapat melihat jin dalam bentuk aslinya, maka persyahadatannya tertolak karena sebenarnya hal ini termasuk kebohongan. Kalau diistilahkan dengan penampakan, maka hal ini dapat dimaklumi karena jin diberikan karunia oleh Allah untuk dapat menyerupai apa saja dengan izin Allah dan tidak lama (hanya sebentar).

Apabila melihat penampakan, maka sebaiknya jangan lari dan langsung saja mengucapkan basmalah. Apabila penampakan itu masih ada, coba lempar sesuatu ke arahnya dan pastikan apakah ia benar ghaib atau makhluk nyata. Jin juga sebenarnya bisa ditangkap tanpa perlu ilmu macam apa pun.

Sebagaimana halnya kisah Abu Hurairah RA saat dirinya menjabat sebagai penjaga rumah zakat dalam suatu hadits panjang riwayat Bukhari. Dalam hadits tersebut, diceritakan Abu Hurairah RA menangkap seorang kakek pencuri. Setelah mengakui kesalahannya dan memohon ampun karena keterdesakan kebutuhan keluarganya, maka ia dilepaskan lagi, tetapi keesokan harinya ia mencuri lagi, ditangkap lagi. Sampai ketiga kalinya tertangkap, akhirnya ia ditangkap, sebelum dilepaskan ia mengajarkan cara menangkal syaitan yaitu ayat kursi, ”Kalau engkau baca ayat itu, maka engkau akan terhindar dari gangguanku”. Setelah itu ia pergi kepada Rasulullah dan menceritakannya dan Rasulullah membenarkannya khusus untuk membaca ayat itu, sedangkan untuk yang lain-lainnya adalah kebohongan. Abu Hurairah tidak tahu bahwa yang mengajarkan itu adalah setan. Ia mengetahui bahwa kakek itu adalah setan setelah diberitahu oleh Rasulullah SAW.

Dari hadits tersebut ini, dapat diperoleh pemahaman bahwa jin juga dapat dipegang dan ditangkap. Disebutkan juga ada kisah lain dari sahabat Nabi yang baru saja pulang dari perang, beliau menemukan ular di dalam rumahnya. Tanpa pikir panjang, ular tersebut langsung dibunuh olehnya. Hanya saja ternyata ular itu masih hidup dan melarikan diri. Sahabat itu pun mengejar ular tersebut, hingga akhirnya mereka keduanya mati. Ularnya terbunuh dan juga sahabat mati terpatuk oleh ular itu. Hingga akhirnya kisah itu sampai kepada Rasul. Rasul pun berkata bahwa jin dapat menyerupai dalam bentuk ular. Apabila ia di dalam rumah, maka usirlah terlebih dahulu. Bila tidak keluar dari rumah, maka tunggu sampai 3 hari. Apabila tidak keluar dalam rentang waktu tersebut, maka ular itu adalah makhluk nyata.

Dalam Al Qur’an juga dijelaskan, Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Q. S. 7 : 27). Maka, orang yang dapat melihat jin itu ada kemungkinan dimasuki jin, berbohong, atau berilmu yang dipelajari sehingga jin ikut serta.

Hadits “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh manusia lewat aliran darah” (H. R. Bukhari dan Muslim) sinkron dengan suatu hadits yang mengatakan bahwa makanan halal akan membentuk pribadi kita. Sebaliknya juga dengan makanan yang haram. Sehingga, dalam doa sebelum makan, terdapat permohonan agar rezeki yang masuk dalam tubuh itu berkah dan menjadikan kita tetap dalam ketaatan. Memakan makanan haram akan menjadikan dalam aliran darah hal yang tidak baik bersama setan dan enggan melakukan ketaatan, kalau pun dapat melakukannya, hal itu adalah kepura-puraan semata.

Iblis
Setan, iblis, jin adalah satu sebenarnya, sehingga tidak ada istilah tersendiri. Dalam Q. S. Al Kahfi : 50, “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” Berdasar ayat ini, ditafsirkan beberapa pendapat bahwa iblis adalah segolongan malaikat yang tidak sujud atau memang jin yang tidak sujud itu disebut Allah semuanya adalah iblis. Namun, satu hal yang pasti bahwa iblis bukanlah makhluk sendiri, melainkan bagian dari golongan makhluk jin.
Berhubungan dengan jumlah iblis, iblis itu hanya ada satu dan dia adalah pemimpin dari para setan. Hal ini secara jelas telah diungkap oleh Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 50 di atas, ungkapan iblis itu hanya satu. Sedangkan, yang banyak itu adalah anak buahnya yaitu setan. Iblis bersumpah untuk menyesatkan manusia dengan tentara setannya dan sumpah ini dikabulkan oleh Allah, sehingga ia akan terus ada hingga nantinya kiamat kelak, sehingga tidak bisa mati.

Setan yang melewati batas alamnya relatif mudah untuk dihadapi oleh manusia, begitu pula bila manusia yang sudah memasuki alam ghaib, maka susah untuk mempertahankan diri. Perbedaan antara dua dunia ini dapat dianalogikan dengan ikan yang berada di luar habitat airnya. Apabila tidak berada di habitatnya sendiri, maka ikan menjadi lemah tak berdaya. Hal ini yang dapat terjadi pada jin dan manusia apabila melewati batas antara dua dunia.
Dalam Q. S. Al An’am : 112, “Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” Maka, jelaslah apabila ada jin setan yang membisikkan was-was sebagaimana juga disebutkan dalam Q. S. An Naas bahwa ada setan berupa jin dan manusia yang membuat manusia was-was.

Roh gentayangan
Roh gentayangan itu sebenarnya tidak ada karena tidak ada ruh yang bebas berkeliaran setelah jasadnya wafat. Pada ayat Q. S. 23 : 99-100, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja…”, sudah jelas bahwa segala sesuatunya sudah terputus bagi seorang manusia yang telah meninggal. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa jika anak cucu Adam meninggal, terputus amalnya, kecuali tiga perkara yaitu amal jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak shaleh. Sehingga, apabila masih ada semacam makhluk menyerupai orang yang meninggal tadi dan mengganggu yang masih hidup, maka kejadian ini sangat tertolak dengan hadits sebelumnya. Pada Q. S. Al Muthaffifin juga menyebutkan bahwa ruh orang yang baik maupun buruk sudah terkekang dalam alamnya sendiri. Bisa jadi sebenarnya yang tampak seperti orang yang meninggal itu adalah setan atau qarin yang selalu mendampingi orang tersebut selama hidup. Apabila ada penampakan roh gentayangan yang mengganggu dan berusaha menggoyahkan aqidah, maka bukan berarti roh tersebut tertolak oleh Allah dan dikembalikan ke dunia karena hal ini tidak mungkin terjadi.

Imam Mujahid ketika menafsirkan kalimat barzakh, beliau mengatakan, “itu adalah pembatas antara kematian dengan alam dunia”. Sehingga, selesailah sudah urusan orang yang meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan jangan juga berdoa mengharap kematian. Karena apabila engkau meninggal maka terputuslah amalnya. Sesungguhnya tidaklah bertambah umur seorang muslim melainkan untuk kebaikan.” (H. R. Muslim) Sehingga sudah jelas sekali bahwa roh tidak bisa kembali dan membuat onar walaupun dulu sewaktu di dunia memang suka mengacaukan sekitarnya. Setan yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengganggu manusia.

Khodam
Khodam secara harfiah berarti pembantu. Istilah khodam dikenal di masyarakat dengan adanya kabar tentang kiai yang mempunyai khodam berupa malaikat. Pada Q. S. 66 :6 disebutkan bahwa, ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Dari firman ini, maka tersirat bahwa malaikat tidak mungkin tunduk kepada manusia. Sehingga, patut dipertanyakan ibadah seperti apa yang menjadikan malaikat tunduk kepada manusia. Kalau pun ada kelebihan tidak wajar yang dimiliki oleh para ahli ibadah itu, maka perlu diteliti apakah memang ibadahnya sesuai syar’i atau tidak. Bisa jadi memang kelebihan itu menjadi karomah yang diberikan Allah, tetapi karomah tidak mungkin muncul berulang-ulang, dan orang yang mendapatkannya juga tidak merasakan sebagaimana mukjizat nabi dan rasul yang hanya bisa terjadi atas kehendak Allah pada waktu-waktu tertentu. Kalau pun ada kisah malaikat yang hendak memberikan perlindungan kepada Rasul, hal ini bukan berarti malaikat tunduk pada Rasul, melainkan hal tersebut atas kehendak Allah.

Bisa jadi juga bahwa ada jin yang mengaku sebagai malaikat yang mau menjadi khodam seseorang. Akan tetapi, untuk menentukan jin itu muslim atau tidak bukanlah hal yang mudah. Karena sebagaimana kisah Abu Hurairah ada juga setan yang hafal ayat kursi. Hal ini berarti bahwa tidak serta merta jin yang bisa membaca Al Qur’an dan berbahasa Arab itu muslim sebagaimana layaknya manusia kafir yang juga masih bisa membaca dan mengucapkan sesuatu dengan bahasa Arab. Satu hal yang jelas dari sifat jin muslim adalah dirinya tidak akan mau tunduk kepada manusia karena pada hakikatnya mereka dan manusia adalah sama seperti yang disebutkan dalam Q. S. Adz Dzariyat : 56.

Jin yang mengaku khodam itu biasanya merupakan jin yang munafik. Jin tersebut juga akan meminta hal yang aneh-aneh dalam pengakuannya itu dengan pengelabuan seperti tapabroto, patigeni, dan lainnya. Bisa juga dalam  permintaan semacam ibadah yang tidak wajar, seperti dzikir yang berlebihan dan hal janggal lainnya.

Mengimani Yang Ghaib Sesuai Syari`at
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiw3-chE-2Xat4jztN0YZVvRTtB8Y5gjTyx384iniA6afwiTxKlfJOgJEFoTXZgf32n8j_AtxUCSp-T5AnwOqo7el4gHlRPEgL0OIDi7fhv5Agb7jxfd77XGpP5u35BGiavSP9c3LgYmdJ-/s72-c/ensiklopedia.jpg
View detail
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Dukun Tobat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger